Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

29 Mei 2018

5 Hal Perusak Puasa, Semuanya Terumbar di Media Sosial


Memasuki suasana bulan Ramadhan, sebaiknya kita memerhatikan tuntunan yang diajarkan syariat. Upaya itu kita lakukan semata untuk mendapatkan ganjaran yang besar dan terhindar dari amalan-amalan yang dapat merusak pahala puasa.

Di antara perkara yang merusak puasa adalah dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat. Umumnya 5 hal tersebut terjadi di tempat yang berbeda. Misalnya, berghibah yang biasanya terjadi di tongkrongan, Dusta dan sumpah palsu dan adu domba banyak terjadi di ranah politik dan perdagangan, dan sebagainya.

Namun dewasa ini, ada satu tempat dimana 5 hal itu banyak terjadi. Bahkan dalam beberapa kasus, 5 hal itu dinilai sebagai suatu kewajaran di tempat tersebut. Yap, media sosial tempatnya.

Perhatikan saja, dusta merajalela dengan banyaknya Hoaks yang ada. Sumpah palsu para Pedagang online yang banyak mempromosikan dagangannya lewat sosial media. Juga melihat dengan syahwat iklan dan postingan yang terkadang mencantumkan konten-konten vulgar, tak menutup aurat/menunjukkan lekuk tubuh, hingga yang terang-terangan dan sengaja menggunakan gambar tak senonoh.

Ghibah juga sama. Hampir tiap hari ada saja figur yang menjadi obrolan netizen. Mulai orang biasa hingga pejabat negara tak luput dari pergunjingan, cercaan, dan intimidasi netizen. Tak jarang pula ada yang menambahkan bumbu-bumbu hoaks agar objek semakin hina di mata pembaca.

Banyaknya pengguna media sosial di Indonesia serta watak mayoritas mereka yang mudah percaya serta malas untuk mengkonfirmasi agaknya menjadi penyebab utama mudahnya beberapa oknum untuk mengadu domba umat. Dengan gambar yang menipu disertai dengan caption yang provokatif, opini masa mudah digerakkan menuju pemikiran tertentu atau bahkan untuk memusuhi suatu kelompok tertentu.

Namun ini semua tak hanya tentang itu. Selain tentang bagaimana kita memperbaiki diri menyambut bulan suci, hal di atas secara tidak langsung mewanti-wanti kita untuk lebih berhati-hati dalam berkata di bermedia sosial, terkhusus di bulan ramadhan.

Ini bukan berarti 5 hal itu diperbolehkan di luar Ramadhan. Bukan juga menghimbau untuk menjadi baik hanya pada bulan ramadhan. Tetapi alangkah baiknya jika kita menjadikan momen Ramadhan ini sebagai titik balik untuk merubah sikap kita dalam bermedia sosial.

Banyak langkah yang bisa dilakukan untuk berubah. Untuk Hoaks misalnya, bisa diatasi dengan tidak mudah percaya dan mengklarifikasi setiap berita yang masuk.

Konten Vulgar berupa iklan bisa diblok menggunakan adblock, sedangkan jika berbentuk postingan bisa dilaporkan sebagai hal yang tidak pantas dalam opsi pelaporan. Ingatlah, selalu ada cara untuk menjadi lebih baik. Tinggallah kita mau berubah, atau tetap menjadi racun di media sosial.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”



Sumber : Ibnu/Kiblat.net

22 Mei 2018

Kartu Ucapan Ramadhan 1439 H / 2018

Bulan Ramadhan adalah bulan yang suci. Seperti embun pagi yang membasahi dedaunan di kala pagi. Embun sejuk yang akan membasuh dan membersihkan jiwa kita




Momen menyambut datangnya bulan suci Ramadhan sudah sangat ditunggu – tunggu bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia untuk sekedar berbagi kebahagiaan mulai dari memberikan kartu ucapan selamat berpuasa Ramadhan 1439 atau anda dapat jadikan ucapan selamat Berpuasa Ramadhan 1439 H sebagai status di media sosial seperti facebook, twitter, whatsApp dan sebagainya.


Nah buat para sahabat, khususnya umat Muslim yang ingin berbagi kebahagiaan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan dengan cara memberikan kata – kata ucapan selamat puasa Ramadhan, berikut ini akan saya informasikan tentang “ 10 Kartu ucapan Pilihan Puasa di bulan Ramadhan 1439 H / 2018 “ yang dapat anda kirimkan kepada keluarga, teman sampai rekan kerja anda.

 Esok adalah harapan sekarang adalah pengalaman kemarin adalah kenangan... yang tak luput dari khilafan mohon maaf lahir dan batin, Semoga RAMADHAN kali ini lebih baik dari RAMADHAN tahun lalu Amin 


 Tibalah kini bulan Ramadhan, pesan ini sebagai ganti jabat tangan tuk memohonkan maaf dari kekhilafan, MOHON MAAF LAHIR & BATIN Marhaban yaa Ramadhan 


 Setitik tinta jadi noda setitik salah jadi dosa Bulan penuh berkat segera tiba Mari tekun ibadah di bulan puasa Marhaban yaa Ramadhan 


 Pagi yang penuh berkas segera menghapiri tanda ramadhan segera tiba, Secarik Kertas sebagai tulisan noda, rintikan hujan menyejukan kalbu, sucikan kalbu bersihkan jiwa mantapkan raga di bulan yang suci. selamat Menjalankan ibadah puasa Semoga jadi momen meningkat ibadah Marhaban Ya Ramadhan 


  Bulan indah nan suci kini datang kembali membawaa kebahagiaan yang begitu berarti kepada jiwa jiwa yang menanti Ramadhan bulan penuh ampunan saatnya bersihkan jiwa dari segala dosa Untuk kembali fitrah dan meraih kemenangan , SELAMAT… 


  Saur bertanda awal puasa jangan malas untuk bangun usap mata maknai awal puasa dengan bahagia Agar mendapat berkah dan amal ibada Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Marhaban Ya Ramadhan 


  Satu tahun berlalu begitu cepat, Tanpa terasa Ramadhan Sudah Tiba Tidak ada kata seindah doa, Menjalankan puasa penuh berkah Selamat Menjalankan ibadah Puasa, Marhaban Ya Ramadhan 


 “Marhaban ya Ramadhan, bulan suci penuh berkah telah tiba. Saatnya untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya, menjauhi keburukan, memperbanyak ibadah. Dengan segala kerendahan hati, mohon maaf lahir dan batin. Marhaban ya Ramadhan. 


 Marhaban Ya Ramadhan... Mohon di bukakan pintu maaf atas segala kekhilafan. Taqoballahu mina wa minkum... selamat menunaikan ibadah puasa. 


 Hapuskan Dendam, Bersihkan Hati, Luruskan Niat, Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1439 H 


 “Selembut embun di pagi hari, tengadah tangan sepuluh jari, ucapkan salah setulus hati, mari kita bersama berbenah diri, di bulan Ramadhan yang suci. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa.” 


19 Mei 2018

Ramadhan Ukhuwah; Bersatu Membangun Negeri


Ramadhan Ukhuwah; Bersatu Membangun Negeri

Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.


Ramadhan bulan mulia, tamu agung bagi mereka yang berharap akan ampunan Tuhannya dan merindukan surgaNya. Ramadhan bulan ibadah dan musim ketaatan. Ia juga adalah bulan ukhuwah dan persatuan.

Oleh karenanya, beberapa amalan ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan di dalamnya adalah amalan penguat ukhuwah dan persatuan. Amalan-amalan itu tidak hanya menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, tapi juga antara hamba dengan hamba yang lainnya.

Diantara amalan-amalan itu adalah:

1. Puasa Ramadhan adalah ibadah yang harus dilaksanakan secara berjama’ah tidak sendiri-sendiri.

Beberapa ulama mengatakan bahwa jika ada seseorang yang melihat hilal Ramadhan sendirinya, namun manusia yang lainnya belum melihatnya, maka ia harus berpuasa bersama manusia. Ia tidak boleh berpuasa sendirian berdasarkan hilal yang telah dilihatnya itu dan tidak boleh pula baginya membangun hukum-hukum puasa berdasarkan penglihatannya terhadap hilal seorang diri. Artinya, ibadah puasa Ramadhan adalah ibadah yang harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak boleh sendiri-sendiri. Ini merupakan pendapat sebagian ulama salaf, satu riwayat pendapat dari imam Ahmad dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumullah.( Mukhtashar Fiqhi ash-Shaum: 74).

Syaikh Abdullah bin Abdirrahman al-Bassam rahimahullah berkata: “Barangsiapa melihat hilal seorang diri saja, maka ia tidak wajib berpuasa dan melaksanakan seluruh hukum-hukum yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Sebab ia harus berpuasa dengan manusia dan berhari raya dengan manusia. Ini adalah pendapat yang benar dari seluruh perkataan yang ada”.( Taudhih al-Ahkam: 2/196)

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Puasa dilakukan pada hari ketika kalian bersama-sama melaksanakan puasa, beridul fitri dilakukan pada hari kalian bersama-sama melakukan idul fitri dan idul adha dilakukan ketika kalian bersama-sama melakukan idul adha”. Imam Tirmidzy berkata: “Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini bahwa ibadah puasa dan berhari raya hanya boleh dilakukan ketika bersama dengan jama’ah dan kebanyakan manusia”. (Sunan at-Tirmidzy: 3/80 No 697)

Amalan ini menunjukkan betapa Ramadhan sangat mengedepankan persatuan umat dan mengedepankan keegoan diri sendiri.

2. Memberi makan orang yang berbuka puasa.

Salah satu amalan yang dapat menguatkan rasa persaudaraan dan persatuan antar sesama muslim adalah saling memberi hadiah. Saling memberi hadiah dapat menghilangkan kebencian di dalam dada, melembutkannya dan menumbuhkan rasa cinta.

Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Saling memberi hadiahlah, sebab hadiah dapat menghilangkan rasa benci di dalam dada”. (HR. Tirmidzy No. 2130)

Diantara amalan yang termasuk dalam bentuk saling memberi hadiah saat bulan Ramadhan adalah memberi makanan untuk orang-orang yang berbuka puasa.Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memberi makanan untuk berbuka puasa seorang bagi seorang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun".

3. Memperbanyak sedekah

Seorang manusia akan merasa sangat bahagia ketika mendapat sedekah dari saudaranya. Tidak hanya memunculkan rasa bahagia, ia juga akan menumbuhkan rasa cinta dan menghilangkan rasa benci, sehingga akan semakin meguatkan ukhuwah dan persatuan. Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan di bulan Ramadhan. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan kedermawanan beeliau semakin bertambah ketika berada pada bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari No. 1902)

4. Menahan amarah dan memaafkan orang lain.

Tujuan dari melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah agar seseorang dapat meraih ketakwaan. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 183)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 183)

Salah satu sifat orang yang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan mudah memaafkan orang lain. Seorang hamba yang berpuasa pada bulan Ramadhan harus mampu melatih dirinya agar dapat memliki sifat mulia ini dan berhias dengannya. Sebab jika tidak, maka ia kehilangan sifat takwa padahal takwa itu adalah tujuan utama dari melaksanakan ibadah puasa.

Jika seseorang telah mampu menahan amarahnya dan mudah memaafkan amarahnya, maka rasa persaudaraan dan persatuan akan semakin kuat dan tidak mudah dipecah belah.

Dari beberapa amalan ini bisa disimpulkan bahwa ibadah puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan bukanlah sekedar ibadah yang hanya menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, akan tetapi ia lebih dari itu. Ibadah puasa juga merupakan ibadah ukhuwah dan persatuan.


Islam dan persatuan

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah persatuan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai amaliyah ibadahnya, salah satunya ibadah puasa. Diantara urgensi persatuan yang diisyaratkan di dalam al-Qur’an adalah memperoleh kemenangan dan bertambahnya kekuatan. Allah Azza wajalla berfirman: “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal: 46)

Ayat ini memberi isyarat bahwa perseteruan akan menyebabkan munculnya rasa takut dan hilangnya kekuatan, sedang persatuan akan menghasilkan kebalikan darinya, yaitu kemenangan dan munculnya kekuatan.

Persatuan sangat kita perlukan untuk kejayaan negeri yang kita cintai ini, Indonesia. Tanpa persatuan maka Indonesia tidak bisa maju dan sederajat dengan bangsa-bangsa lainnya. Sebaliknya, perpecahan hanya akan membawa kemunduran Indonesia.

Semoga Ramadhan kali ini semakin merekatkan ukhuwah di antara kita, semakin membuat kita peduli kepada sesama, yang dengannya kita saling mencintai dengan landasan takwa kepada Allah Ta’ala.

21 April 2018

Tradisi Ruwahan Dalam Pandangan Islam

Saat ini kita berada di bulan Sya’ban atau orang jawa menyebutnya dengan bulan Ruwah. Pada bulan ini ada tradisi yg dilestarikan sampai sekarang dan masih dijalankan terutama di daerah pinggiran atau pedesaan. Org mengenalnya sebagai tradisi Ruwahan atau Arwahan yaitu tradisi yg berkaitan dengan pengiriman arwah org2 yg telah meninggal dengan cara dido’akan bersama dengan mengundang tetangga kanan kiri yg pulangnya mereka diberi ”berkat” sebagai simbul rasa terima kasih. Oleh karena itu, jika bulan Ruwah tiba pasar2 tradisional akan kebanjiran order untuk selamatan ruwahan, diantaranya beras, bumbu dapur, lauk semuanya laris untuk kebutuhan selamatan Ruwahan.

Yang patut dipahami bahwa doa dari org yg hidup kepada org yg mati itu bermanfaat. Dalil yg mendukungnya adalah firman Allah,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.“ (QS. Al Hasyr: 10).

Ayat di atas menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yg dapat diberikan oleh org yg masih hidup kepada org yg sudah meninggal dunia adalah do’a. Ayat ini mencakup umum, yaitu ada doa yg ditujukan pada org yg masih hidup dan org yg telah meninggal dunia.

Dari Ummu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yg mustajab (terkabulkan). Di sisi org yg akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yg bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim).

Dalam kamus bahasa Indonesia, tradisi berarti suatu adat kebiasaan yg diturunkan oleh nenek moyang yg masih dijalankan oleh masyarakat sampai sekarang, sesuatu yg dianggap bermakna baik atau luhur sampai dengan saat ini. Nah, demikian pula untuk tradisi Ruwahan. Tradisi ruwahan sebenarnya merupakan tradisi peninggalan nenek moyang kita. Ritualnya sendiri meliputi ritual keliling desa, ritual bersih desa hingga bersih kubur, ritual kenduri, ritual ziarah kubur dan berakhir dengan ritual padusan/mandi. Dalam tradisi tersebut yg diagungkan adalah roh nenek moyang dan para dewa.

Ketika islam pertama kali diperkenalkan kepada nenek moyang kita oleh para wali, tradisi ruwahan ini tetap dipertahankan khususnya nilai2 luhur yg sejalan dengan ajaran Islam secara ibadah horizontalnya, namun sudah dibedakan NIAT-nya untuk bukan lagi mengagungkan roh atau dewa, namun semata-mata ibadah krn Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam bentuk ukhuwah, shodaqoh, ziarah kubur, doa anak shaleh, dsb.

Dalam ajaran para wali songo tradisi ruwahan tersebut telah banyak bergeser ke ajaran Islam dengan pemaknaan tertentu, misal :

  1. Tradisi nyadran (ziarah kubur), dimanifestasikan untuk mengingat kpd datangnya kematian dan memicu kesiapan bekal kita untuk masa hidup setelah kematian tersebut.
  2. Tradisi nyadran juga dimanifestasikan sebagai wujud amalan bakti anak yg shaleh kepada ortunya, sebagai amal yg tak putus2 (birul walidain).
  3. Bersih desa, lebih menitik beratkan kpd kegotong royongan dan guyub rukunnya warga untuk memelihara lingkungannya (ukhuwah) agar jadi bersih dan lebih indah ketika bulan puasa nantinya. Kebersihan sendiri merupakan salah satu wujud keimanan, bukan?
  4. Kenduri dan megengan (kirim2 hantaran makanan; yg di tradisi Aceh harus dengan daging = "meugang") adalah manifestasi dari paktik do'a bagi semua keluarga sanak saudaranya yg masih hidup dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan membantu untuk siap memasuki ibadah puasa dengan rasa yg suci penuh suka cita menjadi kesadaran orang Islam Jawa.
  5. Pada acara nyadran bebungaan ditaburkan di atas pusara mereka yg kita cintai, karena itu nyadran juga disebut nyekar (menghantarkan bunga). Indahnya warna-warni bunga dan keharumannya menjadi simbol bagi orang Jawa untuk selalu mengenang semua yg indah dan yg baik dari diri mereka yg telah mendahului.
  6. Mandi untuk mensucikan diri dari hadats besar, sehingga lengkaplah kesiapannya menapaki ibadah puasa nantinya

Dengan demikian, ritus itu memberikan semangat bagi yg masih hidup untuk terus berlomba-lomba demi kebaikan (fastabiqul khoirat). Bahkan di daerah kota santri di pantura, Tradisi megengan di bulan Ruwah yg bisa jadi berlangsung seminggu sebelum Puasa tidak hanya menciptakan relasi kesalehan sosial di masyarakat Jawa, namun tradisi ini juga menumbuhkan relasi putaran perekonomian. Pasar kaget ruwahan seperti halnya Dugderan di Semarang atau Dhandangan di Kudus, muncul sebagai dampak kebutuhan masyarakat pada waktu itu untuk menyemangati anak2 dan keluarganya, misal untuk membelikan sarung, mukena, jilbab dan peci yg baru, kitab Qur'an yg baru, dan kain2 untuk mengganti mihrab di surau dan masjid desa, atau agar dapat membeli bahan2 kebutuhan selama awal2 minggu di bulan puasa. (Masih ingat kan dulu pasar tak setiap hari atau setiap jam buka seperti sekarang?)

Di dalam masyarakat Jawa sendiri setiap tindakannya erat sekali dengan simbol2, dalam rangka untuk lebih memaknai suatu ibadahnya. Sebagai misal dalam tradisi megengan biasanya ada hantaran ke tetangga atau kerabat saudara, isi hantaran tradisi megengan di Jawa ini tidak pernah meninggalkan tiga sajian makanan yakni ketan, kolak, dan apem. Makna dari ketiga makanan itu adalah :

  1. Ketan yg lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi,
  2. Kolak yg manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih ‘dewasa’ dan barokah penuh kemanisan.
  3. Apem berarti jika ada yg salah maka sekiranya bisa saling memaafkan. Apem dari kata afwan minhum (arab) yg berarti kata maaf dari mereka. Bahkan di beberapa tempat yg mayoritas warganya bekerja atau bertempat tinggal di luar daerahnya, di dalam tradisi ruwahan juga mengenal Mudik Ruwahan. Mudiknya org Jawa untuk ruwahan tak ubahnya sedang mereplika sirah Nabi Muhammad ketika beliau dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib atau Madinah, yakni mudik untuk melakukan tiga hal yg dibangun untuk mengukuhkan iman keislaman yakni mendirikan masjid, pasar, dan mengikat tali persaudaraan.

Nah, begitu kiranya dasar pelaksaan tradisi ruwahan tersebut dalam kaca mata islam. Selama ibadah tersebut berarah horizontal, perbedaan pelaksanaan antara daerah satu dengan lainnya tentu tak layak jika serta merta dituding sebagai penyakit TBC (Takhayul, Bidáh dan Churafat). Ingat kan bahwa kunci dari semua amalan adalah NIATNYA?

Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, mkaa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Beberapa faedah fikih yg bisa ditarik:

  1. Tidak mungkin suatu amalan itu ada kecuali sudah didahului niat. Adapun jika ada amalan yg tanpa niat, maka tidak disebut amalan seperti amalan dari orang yg tertidur dan gila. Sedangkan orang yg berakal tidaklah demikian, Setiap beramal pasti sudah memiliki niat. Oleh karenanya, Ibnu Qudamah mengatakan,

    لو كلَّفنا الله عملاً بلا نيَّة لكان من تكليف ما لا يُطاق

    “Seandainya Allah membebani suatu amalan tanpa niat, maka itu sama halnya membebani sesuatu yg tidak dimampui. [Kitab Dzammul Muwaswisin karya Ibnu Qudamah, hal. 15].
  2. Setiap orang akan mendapatkan apa yg ia niatkan”, maksud hadits ini adalah setiap orang akan memperoleh pahala sesuai kadar niatnya. Jika niatannya baik, maka diganjar dengan kebaikan. Sebaliknya, jika niatannya jelek, diganjar pula dengan kejelekan.
  3. Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Niat tidak perlu dilafazhkan untuk amalan apa pun berdasarkan kata sepakat para ulama (baca: ijma’). Sebagian ulama Syafi’iyah belakangan menganjurkan melafazhkan niat.
  4. Niat ada dua macam: (1) niat amalan, (2) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut. Niat amalan ada dua fungsi:

    (1) membedakan ibadah dan non-ibadah,

    (2) membedakan ibadah yg satu dan ibadah lainnya.

    Sedangkan yg dimaksud dengan niat jenis kedua adalah niat tersebut ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yg dimaksud dengan niat yang ikhlas.
  5. Manusia diganjar bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan niatnya.
  6. Jika manusia dalam keadaan udzur untuk beramal, ia akan tetap diganjar. Karena seandainya ia tidak ada udzur atau halangan, tentu ia akan beramal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

    “Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya amalan seperti ia dalam keadaan mukim dan sehat” (HR. Bukhari no. 2996).
  7. Jika berbeda antara yg diucap dengan yg diniatkan dalam hati, maka yg jadi patokan adalah niatan di hati.
  8. Masalah niat pada masuk dalam setiap bab fikih karena niat adalah syarat untuk setiap amalan. Sehingga sebagian ulama berkata,

    لو صنَّفتُ الأبوابَ ، لجعلتُ حديثَ عمرَ في الأعمالِ بالنِّيَّةِ في كلّ بابٍ

    “Seandainya aku menulis berbagai bab, maka aku akan jadikan hadits ‘Umar ini di awal setiap bab.” Inilah perkataan ‘Abdurrahman bin Mahdi sebagaimana dibawakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Jami’ul wal Hikam.

kalau begitu, kita harus bisa membedakan mana yg termasuk niat (ibadah) ruwahan dan mana tradisi dan budaya (non ibadah) yg hanya menjadi simbol atau kiasan dari sebuat amalan ibadah seperti kue apem, kolak dan ketan yg telah sy sebutkan diatas, dan mari kita sambut Ramadhan dengan suasana yg lebih maju dan modern lagi. Yuk beli ipad atau gadget lain untuk memudahkan menghafal Qur'an, minimal Juz Amma lah. Atau beli Quran yg lengkap dengan terjemah per-kata dan asbabun nuzul dan haditsnya yg sesuai. Hantaran ke tetangga pakai Bebek Goreng pak Slamet, gudheg Yu Jum, atau Kepiting Cak Gundul pun boleh. Yang penting, lillahi taálla.

Demikian Ibnu Mas'ud At-Tamamini menjelaskan dalam kajiannya dan semoga bermanfa'at. Aamiin

Sumber: FP Asimun Ibnu Mas'ud.

8 September 2012

Syair Sang Sufi

Bila engkau senang dengan petunjuk
ulama
Maka tabir kenyataan akan tersingkap


Dengan jiwa yang tenang dan tegar
Kau hadapi setiap bencana
dan kesabaran hati, menjadi penghalang
bencana

Lidahmu keluh, hasratmu terbelenggu
dan rahasiamu terpendam
Namun bagi Allah, semua itu tampak

Namamu tidak terkenal, pintumu tertutup
Mulut manismu terkunci, dan perutmu
keroncongan menahan lapar

Hatimu terluka, perniagaanmu sepi
Kejayaanmu tenggelam dan kecacatanmu
tersohor

Setiap hari kau telah kepahitan
dari masa ke masa, saudara dan hati yang
taat

Siangmu disibukkan manusia, tanpa arah
dan tujuan nyata
Dan malam harimu kerinduan, hingga
lenyap dari pandangan

Ambilah malam ini, jadikan ia jalan
persiapan
untuk hari akhirat, yang pada saat itu amat
sulit mencari jalan lain.

Tahapan Para Penempuh Jalan Ibadah ( 2 )

Demikian pula engkau harus mengetahui
larangan-larangan-Nya, yang menjadi kebaikan
sifat-sifat diatas, seperti iri, dengki, riya’ (pamer),
sombong dan lain sebagainya agar engkau
dapat menjauhinya. Rasulullah bersabda
untukmenjelaskan karakter ilmu :

“Orang tidur yang mengerti ilmunya tidur lebih
baik daripada orang salat yang tidak mengerti
ilmunya salat”.

Hal itu disebabkan, karena orang yang beramal
tanpa disertai ilmu seringkali merusak apa yang
seharusnya sudah baik.
Untuk melewati tahapan ini seseorang harus
mengalami pelbagai penderitaan dan bahaya
yang ditimbulkannya pun tilaklah kecil. Banyak
ornga telah berusaha melewatinya, tapi dia
malah menemukan kesia-siaan dan kehancuran.
Tidak sedikit orang yang mengerjakannya
(tanpa sungguh-sungguh dan hati-hati), jatuh
dalam kegagalan. Bahkan tidak jarang orang
yang sesat jalannya menjadi bingung. Tidak
sedikit pula orang yang lemah dan (tidak
memiliki apa-apa) terputus ditengah jalan
sebelum sampai pada maksudnya. Banyak pula
orang yang mampu melewatinya dalam waktu
singkat, sedangkan yang lainnya malah
kebingungan untuk melewatinya selama tujuh
puluh tahun. Segala persoalan (dunia) berjalan
atas kehendak Allah yang Mahamulia dan
Mahaagung.

Adapun untuk menghadapi sulitnya tahapan
ilmu, maka sebaiknya engkau bersungguh-
sungguh dan mencurahkan hati (baik lahir
maupun batin) untuk ikhlas dalam mencari
ilmu, sehingga proses pencarian itu adalah
untuk menggapai ilmu makrifat (dirayah) dan
bukan sekedar ilmu yang didapat dengan
periwayatan (riwayah). Karena itu ketahuilah,
bahaya besar yang terdapat pada tahapan ilmu
ini. Artinya, siapa saja yang mencari ilmu denga
tujuan agar dipandang oleh manusia, atau agar
ia berdekatan dengan penguasa untuk
memperoleh kemuliaan, atau mampu
menyaingi para pakar ilmu dan mematahkan
argumentasinya, serta memperoleh kehidupan
duniawi, maka proses pencariannya itu hanya
akan mendatangkan kehancuran. Rasulullah
bersabda : 

“siapa saja yang mencari ilmu dengan dengan
tujuan menyaingi para ulama, atau untuk
membantah orang-orang bodoh, atau agar
manusia melihat kepadanya, maka Allah
akanmemasukkannya ke dalam Neraka”.

Dengan demikian, engkaupun akan
memperoleh kedudukan yang agung dan
ilmumu akan mempunyai nilai yang tinggi serta
pahala yang banyak. Lebih dari itu, engkau telah
mampu melewati tahapan ini dan
meningglkannya dibelakang, serta menunaikan
haknya, atas izin Allah. Kepada Allah lah kita
semua harus memohon untuk mendapatkan
taufik-Nya secara mudah. Sesungguhnya Allah
maha Pengasih. Tiada daya dan kekuatan
kecuali dari Allah Swt semata.

Tahapan Para Penempuh Jalan Ibadah

Dalam karya terakhir Imam al Ghazali sebelum
beliau wafat semoga Allah Swt merahmatinya,
Minhajul Abidin, mengajak pembaca untuk
merenungi kembali hakekat ibadah dan berbagai
tahapan untuk mencapai kesempurnaan ibadah.
Secara lebih rinci dalam buku ini dijelaskan
tentang berbagai tahapan yang harus ditempuh
oleh seorang abid, jika ia menginginkan
kesempurnaan ibadah. Berbagai tahapan
tersebut meliputi tujuh hal : Tahapan Ilmu dan
Makrifat, Tahapan Taubat, Mengetahui Godaan-
Godaan Ibadah, Penghalang-Penghalang,
Pendorong-Pendorong, dan Perusak –Perusak
Ibadah, Serta Tahapan Pujian dan Syukur.
Disini penulis hanya merangkumnya kedalam
tulisan singkat dengan cara meng-copy paste
saja, tanpa menambahkan atau mengurangi
esensi makna serta kalimat yang ditulis, dengan
maksud sebagai pengingat dan penegur pribadi
dan sekaligus berbagi nasehat. Dalam buku ini
sang Guru mencoba melukiskan kondisi
psikologis seseorang yang sedang dalam
perjalanan pencarian Sang Pencipta. Visualisasi
yang nyata dari setiap kondisi tahapan, mudah
dipahami namun tidak jarang juga sifatnya
abstrak, hal ini mungkin tergantung dari kadar
pembaca, sedang kondisi sang Penulis (Sang
Imam) dalam tingkatan yang sedemikian tinggi.
Berikut ini ke tujuh tahapan tersebut.

1. Tahapan Ilmu dan Makrifat


Mengamati dan mencari bukti adalah tahapan
pertama dalam melakukan ibadah, yaitu berupa
tahapan ilmu dan makrifat, agar si hamba
memiliki wawasan atas segala hal yang
dikerjakannya. Karena itu, si hamba harus
segera berusaha melakukan penelitian yang baik
dalam mencari bukti, mematangkan pikiran,
mempelajari dan mempertanyakannya kepada
para ulama Akhirat. Karena mereka adalah para
penunjuk jalan, penerang umat, penggulu para
imam, pemberi manfaat dan penunjuk doa
yang tepat untuk memperoleh pertolongan,
guna melewati tahapan tersebut dengan
anugerah Allah Swt, sehingga dia memperoleh
ilmu keyakinan. Dengan pengetahuan dan
keyakinan maka ia dapat menemukan dan
mengetahui-Nya, setelah sebelumnya tidak
mengenal, bahkan tidak tahu bagaimana cara
menyembah-Nya, dan apa yang mesti
dilakukan, baik lahir maupun batin dalam upaya
melayani-Nya.


Setelah melewati situasi menakutkan dalam
upaya mengetahui Allah Swt, seorang hamba
akan bersungguh-sungguh mempelajari apa
yang mesti dilakukannya, berupa kewajiban-
kewajiban syara’ seperti bersuci, salat dan
sebagainya baik lahir maupun batin. Ketika
pengetahuan akan kewajiban-kewajiban syara’
telah sempurna, niscaya dia akan terdorong
untuk melakukan ibadah dan sibuk didalamnya.
Ketika itu pula ia akan menyadari bahwa dirinya
telah banyak berbuat dosa. Kondisi seperti ini
dialami oleh kebanyakan manusia.
Wahai pencari keikhlasan dan pelaksana ibadah!
Hal pertama yang harus kamu tunaikan adalah
mencari ilmu, sebab ilmu merupakan pusat dan
poros ibadah. Hayati dan renungilah dua ayat
dari kitab Allah Swt :


“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku
padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan
sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi
segala sesuatu” (Q.S 65:12).

Ayat ini menjelaskan pentingnya ilmu
pengetahuan dan kemuliaannya. Lebih-lebih
ilmu tauhis (teologi). Firmannya yang kedua :

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-
Ku” (Q.S 51:56).

Ayat diatas menerangkan pentingnya laku
ibadah dan kemuliaannya, serta kewajiban
untuk melaksanakannya. Ilmu dan ibadah
menjadi tujuan terbesar dalam penciptaan dunia
dan akhirat. Sudah sewajarnya bagi seorang
hamba agar tidak menyibukkan diri, kecuali
dalam hal ilmu dan ibadah. Rasulullah Saw
bersabda :

“Sesungguhnya keutamaan orang yang
mengetahui (Alim) terhadah orang yang
melaksanakan ibadah (Abid) adalah seperti
keutamaanku terhadap umatku yang paling
rendah”.

“sekllas melihat orang alim lebih aku sukai
daripada melaksanakan ibadah selama setahun,
baik berupa ibadah puasa ataupun salat”.


“Maukah kalian aku tunjukkan, siapa penghuni
surga yang paling mulia? Jawab para Sahabat :
‘tentu ya Rasulullah’. Lanjut beliau: ‘mereka
adalah orang-orang yang berpengetahuan dan
berpendidikan dari umatku (ulama).”


Ilmu menjadi pondasi dasar yang
mengharuskanmu mendahulukannya daripada
ibadah, agar engkau menemukan maksud dan
tujuan ibadah itu dengan benar, sehingga
ibadah tersebut bisa diterima di sisi-Nya. Karena
itu, pertama, engkau harus mengetahui siapa
yang wajib disembah (al-Ma’bud). Lalu engkau
menyembah-Nya. Kedua, engkau harus
mengetahui kewajiba-kewajiban syara’, berupa
apa yang diperintahkan dan dilarang padamu.
Jika engkau tidak mengerti apa yang harus kau
laksanakan dan tinggalkan, lantas bagaimana
engkau bisa melakukan ketaatan, yang engkau
sendiri belum mengetahui difinisinya,
bagaimana engkau menjauhi kemaksiatan,
sementara engkau tidak mengerti bahwa hal itu
adalah kemaksiatan. Barangkali engkau telah
bertahun-tahun suatu amal yang kau sangka
baik, namun pada kenyataannya amal itu
termasuk sesuatu yang membatalkan
thaharahmu dan salatmu, serta menjadikan
kedua amal itu bertentangan dengan teks
sunah, sedangkan engkau tidak merasakan hal
itu. Barngkali engkau dihadapkan pada suatu
masalah, dan engkau tidak tahu kepada siapa
engkau harus mengadu masalah tersebut,
sedangkan engkau sendiri belum pernah
mempelajarinya. Kondisi ini juga berlaku pada
beberapa ibadah yang bersifat batiniah, seperti
amal-amal kalbu yang mengharuskanmu
memahaminya.

Total Tayangan Halaman

Feed